Kamis, 16 Maret 2017

Harap Tenang Ini Ujian

Lagi di bioskop mau nonton Logan ngantri minuman gratisan dari go-tix, tiba2 layar TV di depan nyetel trailer Beauty and The Beast. Lalu perbincangan ini pun terjadi:

💁🏻‍♂️: itu emma watson ya?
💁🏼: wiii iyaa emma watson.. tp aku ga terlalu tertarik, soale udh tau ceritanya.. 
💁🏻‍♂️: itu pilem yang anak perempuan sm beruang itu ya?
💁🏼: 🤔 *berpikir sejenak* *memandang suami* *dari mukanya dia betulan ga tau* *menghela napas* *lalu berkata: bukan bukan.. itu bukan Masha and The Bear.. 
💁🏻‍♂️: Ooo..

Kamis, 12 Januari 2017

Sampai nanti

Hampir 20 tahun tapi aku belum kehabisan cara untuk merindukanmu.

Siapa sangka, aku menemukanmu dalam sosok yang bahkan awalnya wajahnya pun tak sanggup kulihat lekat-lekat. Seorang perempuan tua di sampingku dengan lembut merapihkan rambut yang muncul di wajahku saat aku memakai mukena. Tak berani kulihat wajahnya, hanya sanggup melihat tangannya saat menyentuh wajahku. Tangan keriput, putih dan kurus.

Seperti tanganmu.

Berapa kali memori tentang kau memangkuku terputar di kepalaku. Tanganmu memelukku. Kita hanya punya sedikit waktu, tapi kenapa waktu yang telah banyak berlalu tak jua menghapus yang sedikit itu.

Tapi sejenak aku sadar. mungkin aku tidak benar-benar ingin sang waktu menghapusmu. 

Ya, aku menyimpanmu, rapi sekali. Entah dalam salah satu jaringan sarafku yang rumit atau dalam darah yang mengaliri sela-sela hatiku atau mungkin dalam kelenjar air mataku. Aku tak tau persis dimana letakmu dalam satu kesatuan diriku, aku merasa kau ada di ketiganya dalam waktu yang bersamaan. Karena saat mengingatmu hatiku menjadi hangat dan di saat yg sama air mata tak mampu menahan diri untuk mengalir.

Kupikir air mata berhenti setelah aku mengakhiri solat magribku saat itu. Namun nyatanya menjadi isak yang bertambah-tambah. Perempuan tua di sebelahku, meski tak kukenal, memandangku mengajak bersalaman. Detik itu rasanya aku tak bisa untuk tidak memandang wajahnya. Aku memandangnya dan memberikan tanganku menjawab salamnya.

Sedetik setelah itu entah berapa bulir airmata yang berlarian turun bersama isak yang kusembunyikan lewat tangan yang menengadah. Aku sungguh ingin memeluknya. Aku tak mengenal perempuan itu, kami hanya orang-orang yg tak sengaja bertemu karena solat berjamaah di masjid. Ia tidak identik mirip denganmu tapi kenapa kehadirannya begitu mengingatkanku akan engkau. 

Sudah hampir 20 tahun sejak kepergianmu. Terlalu banyak yang ingin kuceritakan. Terlalu banyak yang ingin aku adukan.. 

Padamu yang kukirimkan rindu dan doa yang semoga tak putus-putus.. 

Eyang, sampai nanti :)

Senin, 02 Januari 2017

Perkara bersalah dan meminta maaf

Merasa bersalah menurut sebagian orang adalah salah satu perasaan yang harus dirawat agar jiwa tidak hanya dikuasai oleh angkuh, gengsi dan merasa paling benar.

Meminta maaf juga menurut banyak orang harus dilakukan ketika seseorang merasa bersalah. Pun yang saya lakukan. Setiap kali merasa bersalah saya meminta maaf. Tak jarang berkali-kali kepada orang yang sama. 

Namun kemudian saya sadar. Ada jenis perasaan bersalah yang harus didiamkan. Bukan untuk memupuk jiwa menjadi angkuh. Tapi sekedar memberi jarak pada objek yang mungkin lelah dengan permintaan maaf, atau dengan perilaku saya. 

Setiap orang memiliki karakter dengan treatment masing-masing. Seharusnya saya sadar sepenuhnya, cara saya ingin ditreatment sangat mungkin berbeda dengan orang lain. Bagi saya, jika orang bersalah pada saya maka selayaknya ia minta maaf dan mencoba dekat dengan saya. Namun sangat ada orang-orang yang membutuhkan jarak. Entah untuk mendamaikan rasa di internal dirinya, atau sekedar "plis cukup, berhenti di situ". 

Meski bagi orang seperti saya, berjarak hanyalah menambah beban hati. Tapi perjalanan rasa membuat saya mengangguk mengerti.

Adalah tugas saya menyampaikan pada langit. Meminta kuasaNya untuk membenarkan tali temali hubungan dunia yang kusut.



Rabu, 28 Desember 2016

Menikahimu

Bukan hanya perkara saat kamu terbangun pagi hari di sampingmu akan selalu ada seseorang..

Tapi ketika kamu sadar bahwa harimu sudah lengkap dengan pagi yang sederhana. Sesederhana setiap pagi menjadi yang pertama melihatnya terbangun atau sebaliknya, ada mata yang siap memandang untuk melihatmu terbangun. Pandangan yang lebih sering diiringi dengan senyum.


Adalah ketika kamu sampai di semua tempat tujuan bersama-sama. Bukan karena barang-barangmu kini tak kau pikul sendiri. Tapi lihatlah tanganmu, ada yang menggenggam erat. Di saat itu kamu tahu ada yang hangat. Hatimu seperti lapangan sepak bola, ah tidak, selapang pemandangan dari puncak anjani. Dan kemudian kamu bercita-cita lebih tinggi lagi, mungkinkah selapang di surga kelak jika bersama?


Adalah ketika dadamu terasa panas dan sesak oleh amarah. Dia berada di sana. Bukan, bukan untuk menenangkanmu. Tidak. Justru lebih sering panas dan sesak itu terasa padanya pula. Berdua menumpahkan dan berebut mengatakan ego masing-masinglah yang terbaik dan terbenar. Berteriak, menangis. Tak jarang rasanya ingin berjarak. Tapi kemudian saling memeluk dan menyerah. Saling mengatakan bahwa dirinyalah yang bersalah. 


Adalah Ketika kamu sadar setiap doa yang terhembus dan membuat air matamu terjatuh, di saat itu pula ada pundak dan tangan yang siap menopang. Bukan menjadi sandaran. Tapi membantumu berdoa lebih kuat lagi. Menawarkan tangan yang sama, menengadah meminta padaNya


*** 


Kita sama-sama sadar.. kita hanyalah insan yang berhak merasakan rasa. Tak bisa seterusnya menuntut kisah cinta merah muda. Karena rasa tak hanya suka. Ia berhak berduka. Ia berhak menangis. Dan terima kasih, karena kamu berada di sana. Di sebelah jiwaku. Berusaha saling menyeimbangkan di saat melengkapi rasa. Inilah pernikahan kita, ajang saling merendahkan ego, serendah-rendahnya setiap saat.


Kita sama-sama tidak tahu kapan waktu kita habis. Tapi aku berharap, lebih banyak lagi pelajaran, lebih banyak lagi merasakan. Bersamamu. Semoga begitu juga dengan rasamu. Selamat belajar bersama, mulai dari tanggal ini di tahun yang lalu, hingga insyaAllah selamanya.



Hat Yai, 27 Desember 2016