Selasa, 06 Desember 2016

Sajak Desember

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. 

kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;

di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu


( Sapardi Djoko Damono - 1961)

Kamis, 01 Desember 2016

Perempuan-perempuan Pejuang (copas Jayaning Hartami)

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang rela bangun dini hari, memompa ASI sekaligus siapkan sarapan pagi. Lalu saat matahari sedikit meninggi, mereka melangkahkan kaki untuk pergi. Berkontribusi lewat kerja kerja yang menggerakkan perekonomian negeri ini..

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang memutuskan tidak bekerja, lalu menghabiskan hari harinya bersama anak dan pekerjaan rumah tangga. Dengan sederet potensi dan prestasinya di masa lalu, cukup baginya ditukar dengan tawa dan pelukan dari para makhluk kecil di tengah tumpukan baju, kompor menyala, serta sudut sudut rumah yang belum tersapu..

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang tidak putus mengejar ilmu. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar kelak anak paham bahwa tak ada yang lebih menundukkan hati dibandingkan mengetahui betapa kerdilnya ilmu yang kita miliki.

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang bersetia melayani suami dengan sebaik baiknya. Bukan tentang rendahnya peran, tetapi bagi mereka menjaga pandangan suami adalah hal yang sungguh menyenangkan. Perempuan semacam ini sungguh mengajarkan keikhlasan. Menjadikan rumah sebagai syurga sebelum syurga sebenarnya yang dicita citakan..

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang berani bangkit melawan, ketika suami tak henti main tangan. Meski dipenuhi ketakutan,  ia paham betul ada ketentraman jiwa anak yang mesti diselamatkan. Malam malamnya mungkin dipenuhi pikiran, bagaimana hidup ke depan. Tapi ia tahu. Ia yakin. Pada Allah-lah sebaik baik penjagaan..

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang berusaha bergerak maju, setelah pernikahannya dihancurkan oleh pengkhianatan. Tak perlu baginya sibuk berkutat dengan aib mantan, atau sampai sibuk menyindir bersahutan. Karna apapun itu, tak akan mengubah keadaan. Karna diantara dirinya dan sang mantan, ada anak kecil yang berhak atas kebahagiaan..

Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang dulu tersakiti masa kecilnya. Mungkin omelan, sering juga sabetan. Atau perkataan buruk dari Ayah Ibu yang hingga kini di kepalanya tak henti bersahutan. Tapi baginya, cukup semua sakit itu berhenti padanya. Ia punya sejuta alasan untuk marah, tapi memilih memaafkan. Karena anak anaknya, berhak mendapatkan sosok ibu dengan versi terbaik dari dirinya..

Sungguh, Aku melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang bersungguh sungguh pada apa yang dikerjakan. Ia sibuk memperbaiki diri, juga kualitas dengan keluarga dan lingkungannya sendiri.

Tak ada waktu baginya untuk mencemooh apalagi nyinyir pada pilihan hidup orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya perjuangannya sendiri, yang mungkin tidak ia pahami.

Aku sungguh melihat perempuan-perempuan pejuang,

Pada mereka yang menyibukkan diri pada kebaikan. Pada mereka yang terus menata ikhlas pada peran yang saat ini dimainkan.

Ia bahagia dengan apa yang dipilihnya, sehingga tak pernah butuh merendahkan peran orang lain, hanya untuk membuat dirinya terlihat berharga..

Perempuan perempuan semacam ini yang akhirnya membuat saya paham, mengapa pada mereka syurga itu diletakkan..




Selasa, 29 November 2016

Sepiring Cinta

Pagi yang sibuk itu, ibu menyiapkan sarapan untuk kami. Entah itu sayur tumisan, telur setengah matang, atau hanya donat gula gula dari tukang roti yang lewat depan rumah pasti tersaji di meja makan sebelum kami berangkat sekolah.

Membesarkan empat anak perempuan dengan karakter yang berbeda-beda menjadi tambahan beban tingkat kesulitan ibu menangani kami. Terlebih aku. Yang hampir tiap pagi nangis ga jelas, entah ga mau sekolah, gamau makan atau ga mau mandi. Rumit pokoknya. *Sampe sekarang aku juga gatau kenapa aku kek gitu waktu kecil*

I am a picky eater. Itu juga adalah beban terberat pagi hari bagi seorang ibu. Tapi demikianlah ibu, tetap menyajikan apapun itu daaan memastikan makanan di piring dilahap anaknya. 

Mungkin perkara menyiapkan sarapan terdengar simpel. Tapi percayalah, mulai dari ide hingga penyajiannya cukup menguras otak dan fisik. Setelah bersuami dan tinggal berdua, saya sadar dibalik sepiring sarapan, penyajinya menitipkan cinta. Berharap yang memakannya kenyang dan bahagia memulai hari.

Begitulah setiap pagi, ada harapan kepada yang dicinta.. :)


Senin, 22 Agustus 2016

Kembali berdua


Ngurusin sendiri kartu keluarga dan pindah domisili KTP menyadarkanku.. Bahwa aku sangat butuh kerjasama dgn suamiku. Kerjasama seumur hidup.

***
Akhirnya satu per satu nama anak dalam keluargaku terdepak dari KK bapakku. Tinggal nama adikku. Pun dengan KK ayah mertuaku, tinggal bertiga.. Sepasang mertuaku dan nama adik suamiku.

Yah pada akhirnya kelak.. Akan kembali seperti semula. Kembali berdua.

Tangga kehidupan masih panjang, fase berdua-punya anak- membesarkan anak- melepaskan anak- lalu kembali berdua lagi. 

Bagaimana kelak ya?
Yg jelas terima kasih untuk kerjasama selama (hampir) 7bulanan ini. Allah tau banget ternyata yg sabar dan lucu seperti ini yg sesuai sama aku. InsyaAllah selamanya cinta dan cinta selamanya.