Postingan

kalau

Halo aku Kamu takut ya Tak ada yang menemani ya Tidak usah takut Ada aku di sini.. Meski begitu aku tau kamu senang  Setidaknya tidak adanya kamu mengurangi beban seseorang Yang katanya kau tak membawa ketenangan, kini ia bisa lebih tenang. Melihatnya tersenyum bersama yang lain sudah cukup kan. Yang pasti2 saja.. Kalau tidak diterima, kita pergi Kalau adanya kita membebani, kita kurangkan bebannya dengan tidak adanya kita Kalau dianggap tak bisa berubah, kita buktikan, tak apa tak dilihat. Kalau dianggap memancing emosi, tundukkan saja wajahmu Suara, ekspresi, gerak gerikmu tundukkan.. Kalau masih takut? Hadapi bersama ya Kelak saat kepala kita sama sama dingin.. jangan menghindar, kita hadapi dengan senyuman..

Kehilangan

  Aku dulu suka sekali menulis Tapi sekarang menulis adalab hal yg sulit sekali kulakukan. Aku kehilangan banyak sekali diriku. 

Peluk Ibu

 Malam ini gerimis tak hanya di luar, tapi juga di hatiku. Sekian puluh tahun hidupku, pelajaran "memaafkan" adalah pelajaran yang terus menerus harus kulakukan. Ternyata 36 tahun hidup aku masih sangat amatir dalam memaafkan dan mengikhlaskan. "Ibu minta maaf belum jadi ibu yang baik. Ibu minta maaf kalau dulu kamu jadi merasa dibuang sama ibu," Ucap ibuku sambil menangis. Selama ini, tak pernah kuungkapkan pada siapapun kecuali pada suamiku perkara kegagalanku di masa lalu. Tentang betapa aku merasa dibuang dan tak berharga hanya karena ketidakmampuanku.  Betapa aku sangat kesepian di masa remajaku karena harus berpisah dengan ibu dan saudara-saudaraku. Betapa ambisi orang tua dan “ingin memberikan yang terbaik” adalah hal yang harus kulalui meski mengorbankan kepercayaan diriku. Aku pernah berharap suatu saat mendengar maaf dari orang tuaku. Namun, setelah aku mendengarnya, hati ini tak merasa lega, justru bergemuruh sedih. Hati anak mana yang tidak hancur menden...

Bukan kaledoiskop

Aku tak pandai merekap kejadian. Namun kepalaku seakan terus memutar kejadian demi kejadian yang tak kuinginkan. Ternyata sudah satu tahun lebih aku mengalihkan diri.   Tadi pagi, aku menyempatkan untuk berjalan kaki. Tak kusangka pengalaman jalan kaki pagi hari bisa sangat emosional. Sepanjang jalan, terutama saat melewat tempat-tempat yang pernah aku datangi sebelumnya, seperti rumah si kucing gendut, waduk Wonorejo, maupun tanjakan menuju rumah, air mata ini mengalir tanpa aba-aba. Ternyata bagian paling pahit adalah menyelami kenangan. Bagian paling sulit adalah memiliki memori. Memori yang tak bisa dibuang layaknya barang. Dia menyatu bersama diriku. Di saat yang tersisa hanya diriku yang tak banyak..   Bagian terberat ternyata menghadapi diriku sendiri.

Mengenang Sang Dosen Wali

Mereka yang hadir adalah takdir..  Tak sengaja melihat kembali profil instagram dosenku di Unpad. Pak Ipit namanya. Semoga saat ini Allah lapangkan kuburnya karena ilmu yang beliau berikan pada kami selama hidupnya. *** Siang itu aku mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Tak kuangkat. Lalu masuklah sms dari nomer tersebut. Marah-marah. Sms yang masuk kemudian kubaca baik2. Isinya “Jangan ganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak!” Aku terhenyak. Alhamdulillah daftar laki2 yang ku sms tak banyak. Ah ya tahun itu blm ada chat wa, masih menggunakan sms untuk berkomunikasi.   Aku pun langsung menyadari dan membalas dengan meminta maaf. Aku sadar wanita di seberang sana sedang emosi dan terluka. Aku menyampaikan bahwa aku memang suka kirim sms tausiyah. Tapi kepada laki-laki, sms tausiyah hanya kukirim ke dua orang saja. Bapakku dan dosen waliku: Pak Ipit. Hal itu yang membuatku cepat menyadari siapa wanita yang mengirimiku sms. Karena tak mungkin itu istri bapakku ka...

a home

Gambar
  I used to think everyone would always have a home to return to. And that everyone actually had a home. Not necessarily a building, but just a place that accepts us as we are that’s already a home. Back then, it was so easy to picture what a home looked like. Even drawing it was simple. Maybe not realistic, but it always had two windows in the front, one door, and a little chimney. And of course, an apple tree standing next to it with its fruits. Just like a template drawing, the same way kids draw mountains. But growing up took me somewhere completely different. I can’t really imagine it anymore, let alone draw it. I can’t even go back to a place I’d call home. Now it feels like such a luxury to have a home. Not because houses are getting more expensive, but because there’s no place that truly accepts every flaw.

Perkara Kerudung Kuning

Pagi itu, di kerumunan remaja-remaja berjilbab kuning kunyit yang akan mengikuti wisuda Al Quran, saat sedang mencari seseorang, kutemukan satu di antara remaja berjilbab kuning kunyit sedang bersedih. Di sebelahnya ada 2 guru yang sedang menghibur. Alasan sedihnya mungkin sepele bagi orang lain: Jilbab kuning yang dibagikan sekolah ukurannya terlalu kecil untuknya. Cukup membuatku tertohok. *** Berproses ibarat sebuah garis panjang yang dihubungkan oleh titik-titik pencapaian yang tempatnya berpindah-pindah, kadang garis tersebut terhubung ke titik di atas, namun bisa jadi selanjutnya garis itu menuju ke titik di bawah. Idealnya tentu saja proses yang baik adalah proses yang menunjukkan garis-garis tersebut menuju ke titik atas. Namun, banyak faktor yang membuat titik tersebut berpindah-pindah tempat, faktor internal maupun eksternal. Dalam hal ini aku ingin membicarakan betapa tertohoknya aku dengan kesedihannya. Kesedihan yang kucemburui. Sedih karena tak sempurna dalam menutup aura...