Postingan

Bukan kaledoiskop

Aku tak pandai merekap kejadian. Namun kepalaku seakan terus memutar kejadian demi kejadian yang tak kuinginkan. Ternyata sudah satu tahun lebih aku mengalihkan diri.   Tadi pagi, aku menyempatkan untuk berjalan kaki. Tak kusangka pengalaman jalan kaki pagi hari bisa sangat emosional. Sepanjang jalan, terutama saat melewat tempat-tempat yang pernah aku datangi sebelumnya, seperti rumah si kucing gendut, waduk Wonorejo, maupun tanjakan menuju rumah, air mata ini mengalir tanpa aba-aba. Ternyata bagian paling pahit adalah menyelami kenangan. Bagian paling sulit adalah memiliki memori. Memori yang tak bisa dibuang layaknya barang. Dia menyatu bersama diriku. Di saat yang tersisa hanya diriku yang tak banyak..   Bagian terberat ternyata menghadapi diriku sendiri.

Mengenang Sang Dosen Wali

Mereka yang hadir adalah takdir..  Tak sengaja melihat kembali profil instagram dosenku di Unpad. Pak Ipit namanya. Semoga saat ini Allah lapangkan kuburnya karena ilmu yang beliau berikan pada kami selama hidupnya. *** Siang itu aku mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Tak kuangkat. Lalu masuklah sms dari nomer tersebut. Marah-marah. Sms yang masuk kemudian kubaca baik2. Isinya “Jangan ganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak!” Aku terhenyak. Alhamdulillah daftar laki2 yang ku sms tak banyak. Ah ya tahun itu blm ada chat wa, masih menggunakan sms untuk berkomunikasi.   Aku pun langsung menyadari dan membalas dengan meminta maaf. Aku sadar wanita di seberang sana sedang emosi dan terluka. Aku menyampaikan bahwa aku memang suka kirim sms tausiyah. Tapi kepada laki-laki, sms tausiyah hanya kukirim ke dua orang saja. Bapakku dan dosen waliku: Pak Ipit. Hal itu yang membuatku cepat menyadari siapa wanita yang mengirimiku sms. Karena tak mungkin itu istri bapakku ka...

a home

Gambar
  I used to think everyone would always have a home to return to. And that everyone actually had a home. Not necessarily a building, but just a place that accepts us as we are that’s already a home. Back then, it was so easy to picture what a home looked like. Even drawing it was simple. Maybe not realistic, but it always had two windows in the front, one door, and a little chimney. And of course, an apple tree standing next to it with its fruits. Just like a template drawing, the same way kids draw mountains. But growing up took me somewhere completely different. I can’t really imagine it anymore, let alone draw it. I can’t even go back to a place I’d call home. Now it feels like such a luxury to have a home. Not because houses are getting more expensive, but because there’s no place that truly accepts every flaw.

Perkara Kerudung Kuning

Pagi itu, di kerumunan remaja-remaja berjilbab kuning kunyit yang akan mengikuti wisuda Al Quran, saat sedang mencari seseorang, kutemukan satu di antara remaja berjilbab kuning kunyit sedang bersedih. Di sebelahnya ada 2 guru yang sedang menghibur. Alasan sedihnya mungkin sepele bagi orang lain: Jilbab kuning yang dibagikan sekolah ukurannya terlalu kecil untuknya. Cukup membuatku tertohok. *** Berproses ibarat sebuah garis panjang yang dihubungkan oleh titik-titik pencapaian yang tempatnya berpindah-pindah, kadang garis tersebut terhubung ke titik di atas, namun bisa jadi selanjutnya garis itu menuju ke titik di bawah. Idealnya tentu saja proses yang baik adalah proses yang menunjukkan garis-garis tersebut menuju ke titik atas. Namun, banyak faktor yang membuat titik tersebut berpindah-pindah tempat, faktor internal maupun eksternal. Dalam hal ini aku ingin membicarakan betapa tertohoknya aku dengan kesedihannya. Kesedihan yang kucemburui. Sedih karena tak sempurna dalam menutup aura...

Tak Pernah Siap

Gambar
Kita selalu tahu bahwa orang-orang tersayang cepat atau lambat akan pergi.. kembali kepadaNya.. tapi kenapa rasanya tak pernah siap jika kenyataan itu hadir tiba-tiba.. *** 27 Juli 2021 Setelah sholat subuh, mama mertuaku video call menginfokan bahwa saturasi papah ada di angka 82. Sehari sebelumnya suamiku sudah membuat janji dengan RS Tentara (RST) agar hari ini melakukan swab home care ke rumah mertua karena kedua orangtuaku ga mau periksa apapun selama semingguan sakit. Seharusnya hari ini homecare tersebut datang, tapi karena saturasi sudah di angka 82, maka dari RST mengatakan harus langsung dibawa ke RS agar mendapat bantuan oksigen yang memadai. Masih teringat jelas pagi itu kegelisahan mulai muncul, suamiku dan aku melaju ke rumah mamah untuk menjemput papah, aku di jalan sibuk mencari RS yang masih ada bed kosong. Mengingat untuk menuliskannya saja membuatku sedih, betapa kalutnya saat itu. Mengantar Papah ke RS (27/7) Pada hari itu, hanya RS Kanudjoso yang memiliki bed koson...

Wadah Besar

Gambar
Kalau terima kasih itu bisa dimasukkan dalam sebuah kantong atau wadah besar.. maka malam itu mungkin kita ga bisa pulang ke rumah karena wadahnya terlaluuuuuuuu besar.. *** sehari sebelum malam itu, ada yang heboh panik tau istrinya mewek karena pengen makan sesuatu tapi takut mahal. padahal sudah diam2 meweknya... wkwkwkwk asli nda penting.. maap lho ya.. dan kisahnya tu.. tadinya mo sosoan ayo tahan tahan.. inget inseminasi, inget mau haji!!! Yak! kita udah sama-sama saling menahan mau beli ini itu yang jadi keinginan kita buat cita-cita kita.. insyaAllah nanti setelah cita-cita tercapai apa yang jadi keinginan bisa kebeli yaaaaaa.. atau nanti di surga aja minta sm Allah.. Tak dinyana.. ternyata bapak cahyo bergerak gesit besoknya bawa makaan di tempat yang dimau! semoga Allah lapangkan rejekinya ya pak.. jadi kuputuskan akan kuingat selalu malam itu..

Dibuang sayang

Gambar
Di sela-sela rapat dan bikin soal... diskusi drakor ternyata gemes juga pas dibaca lagi.. wkwkwk maap kita lagi demen sama drakor Start Up.. tp memasuki episode 4 si bojo udah ga kek awal2 semangatnya.. bikos udah ada bumbu2 lop2annya... wkwkwk biarin aja yang penting mbak sm masnya cakeeuupp..weeeekkk..