Mengenang Sang Dosen Wali

Mereka yang hadir adalah takdir.. 

Tak sengaja melihat kembali profil instagram dosenku di Unpad. Pak Ipit namanya. Semoga saat ini Allah lapangkan kuburnya karena ilmu yang beliau berikan pada kami selama hidupnya.



***


Siang itu aku mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Tak kuangkat. Lalu masuklah sms dari nomer tersebut. Marah-marah.


Sms yang masuk kemudian kubaca baik2. Isinya “Jangan ganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak!”


Aku terhenyak.


Alhamdulillah daftar laki2 yang ku sms tak banyak. Ah ya tahun itu blm ada chat wa, masih menggunakan sms untuk berkomunikasi. 


Aku pun langsung menyadari dan membalas dengan meminta maaf. Aku sadar wanita di seberang sana sedang emosi dan terluka.


Aku menyampaikan bahwa aku memang suka kirim sms tausiyah. Tapi kepada laki-laki, sms tausiyah hanya kukirim ke dua orang saja. Bapakku dan dosen waliku: Pak Ipit. Hal itu yang membuatku cepat menyadari siapa wanita yang mengirimiku sms.


Karena tak mungkin itu istri bapakku kan hihihi.


Aku sampaikan permintaan maafku setulus-tulusnya dan betapa aku sangat menganggap suaminya sosok ayahku di perantauan ini.


***


Kisah ini kusimpan beberapa lama untuk kemudian kuceritakan pada Pak Ipit. Aku tak ingin membuat rumah tangga mereka gonjang ganjing karena aku “melaporkan” kejadian tersebut. Meski kalau dibilang tersinggung ataupun tidak nyaman, jelas aku merasakan itu.


Tapi ada hal lain yang lebih penting yang harus kujaga: rumah tangga orang lain.


Maka aku berhenti... tak mengirimkan sms tausiyah kepada dosen waliku. Menjaga hati seorang wanita.


Saat pengisian KRS pun tiba, tak ada kurencanakan untuk menyampaikan cerita ini padanya. Namun Pak Ipit menanyakan, sudah berbulan-bulan tak pernah mengirim sms islami lagi. Sudah tidak ada program BKI kah? BKI adalah organisasi rohis yang kuikuti saat kuliah.


Lalu kuceritakan… dengan sangat hati-hati agar nama baik istri beliau tetap terjaga.


Reaksi beliau?


Tertawa.


Hatiku pun lega.


“Nanti saya belikan sesuatu biar ga emosiii.. maafin yaaaa nurida”


***

Setelah itu, sampai akhir hayatnya kulihat keluarga mereka tetap utuh bahkan Allah karuniakan anak.


Aku selalu ingat Pak Ipit saat aku lulus pernah menyampaikan padaku:


Terima kasih sudah bijaksana saat istri saya menghubungi kamu, terima kasih sudah menganggap saya sebagai sosok dosen wali. Karena mahasiswa biasanya hanya menemui saya saat KRSan untuk tanda tangan. Tapi kamu satu-satunya mahasiswa yang membuat saya menjalankan tugas dosen wali dengan baik. Selamat atas kelulusanmu!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

a home

maPANDAyan 30-31 Maret 2013 (catper Gunung Papandayan)