Jangan menikah karena cinta


Apa jadinya jika kendaraan selama perjalanan panjang adalah kendaraan yang tak nyaman?

Apa jadinya jika tempat bersandar selama perjalanan panjang adalah sandaran yang tiba2 hilang suatu waktu?


***

Menikah adalah ibadah yang panjang. Perjalanan panjang.

Banyak pasangan yang melangkah ke pelaminan dengan satu-satunya bekal bernama "cinta," sebuah kata benda yang sayangnya, dalam ilmu saraf, bekerja lebih mirip seperti obat-obatan terlarang (adiktif dan berbahaya gais) daripada sebuah fondasi bangunan. Bagiku cinta adalah campuran dari berbagai emosi. Kombinasi dari bahagia, cemas, gairah hingga empati. Perasaan yang tak bertahan lama dan berdinamika.


Helen Fisher dalam bukunya Why We Love mengungkapkan bahwa fase "mabuk kepayang" atau passionate love dipicu oleh banjir dopamin di otak yang memiliki masa kedaluwarsa. Rata-rata, euforia ini hanya bertahan antara 18 hingga 36 bulan. Jika pernikahan hanya disandarkan pada fluktuasi kimiawi ini, maka ketika hormon tersebut kembali ke level normal, pasangan akan merasa "kehilangan kecocokan," padahal yang terjadi hanyalah otak yang sedang beristirahat.


kita sering terjebak dalam apa yang oleh para psikolog disebut sebagai Hedonic Adaptation. Ini adalah fenomena di mana manusia cenderung kembali ke titik emosional stabil setelah mengalami lonjakan kebahagiaan. Memiliki pasangan yang rupawan atau romantis pada akhirnya akan terasa "biasa saja" seiring berjalannya waktu. Robert Sternberg lewat Triangular Theory of Love menyampaikan bahwa gairah (passion) adalah komponen yang paling tidak stabil. Tanpa adanya elemen komitmen yang transenden (di luar segala kesanggupan manusia), hubungan manusia hanyalah tentang negosiasi ego. Di sinilah letak kerapuhan jika "cinta" dijadikan satu-satunya Tuhan dalam rumah tangga; ia bisa bertambah saat kebutuhan terpenuhi, namun bisa seketika sirna saat konflik mendera.


Maka setelah mengarungi pernikahan hingga 1 dekade aku pun setuju kendaraan perjalanan panjang ini haruslah kendaraan yang mesinnya baik. Yang bisa diajak gas dan rem untuk perjalanan yang sangat panjang. Kendaraan itu bukanlah cinta yang mesinnya bisa berhenti sewaktu-waktu. 


Menikahlah karena Allah Sang Al-Baqi (Yang Maha Kekal). Hal ini akan mengubah paradigma dari menikah sekadar mencari kebahagiaan pribadi menjadi bentuk pengabdian. Pasangan hanyalah wasilah (perantara) untuk mencintai Sang Pencipta. Di titik inilah, cinta tidak lagi menjadi beban, melainkan hadiah yang terus diperbarui oleh-Nya.


Selamat merayakan cinta.. cinta yang bersandar padaNya. Yang tak habis-habis sabarmu karena menjadi ladangmu mendapatkan cintaNya.


Selamat merayakan cinta yang bersandar padaNya.. meski terseok dan melelahkan.. tapi pertolonganNya selalu dekat.


Masjid Assalam Wika,

16 Maret 2026

23.12 wita


Komentar

Postingan populer dari blog ini

a home

Mengenang Sang Dosen Wali

Dibuang sayang