Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Bukan kaledoiskop

Aku tak pandai merekap kejadian. Namun kepalaku seakan terus memutar kejadian demi kejadian yang tak kuinginkan. Ternyata sudah satu tahun lebih aku mengalihkan diri.   Tadi pagi, aku menyempatkan untuk berjalan kaki. Tak kusangka pengalaman jalan kaki pagi hari bisa sangat emosional. Sepanjang jalan, terutama saat melewat tempat-tempat yang pernah aku datangi sebelumnya, seperti rumah si kucing gendut, waduk Wonorejo, maupun tanjakan menuju rumah, air mata ini mengalir tanpa aba-aba. Ternyata bagian paling pahit adalah menyelami kenangan. Bagian paling sulit adalah memiliki memori. Memori yang tak bisa dibuang layaknya barang. Dia menyatu bersama diriku. Di saat yang tersisa hanya diriku yang tak banyak..   Bagian terberat ternyata menghadapi diriku sendiri.

Mengenang Sang Dosen Wali

Mereka yang hadir adalah takdir..  Tak sengaja melihat kembali profil instagram dosenku di Unpad. Pak Ipit namanya. Semoga saat ini Allah lapangkan kuburnya karena ilmu yang beliau berikan pada kami selama hidupnya. *** Siang itu aku mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Tak kuangkat. Lalu masuklah sms dari nomer tersebut. Marah-marah. Sms yang masuk kemudian kubaca baik2. Isinya “Jangan ganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak!” Aku terhenyak. Alhamdulillah daftar laki2 yang ku sms tak banyak. Ah ya tahun itu blm ada chat wa, masih menggunakan sms untuk berkomunikasi.   Aku pun langsung menyadari dan membalas dengan meminta maaf. Aku sadar wanita di seberang sana sedang emosi dan terluka. Aku menyampaikan bahwa aku memang suka kirim sms tausiyah. Tapi kepada laki-laki, sms tausiyah hanya kukirim ke dua orang saja. Bapakku dan dosen waliku: Pak Ipit. Hal itu yang membuatku cepat menyadari siapa wanita yang mengirimiku sms. Karena tak mungkin itu istri bapakku ka...