I used to think everyone would always have a home to return to. And that everyone actually had a home. Not necessarily a building, but just a place that accepts us as we are that’s already a home. Back then, it was so easy to picture what a home looked like. Even drawing it was simple. Maybe not realistic, but it always had two windows in the front, one door, and a little chimney. And of course, an apple tree standing next to it with its fruits. Just like a template drawing, the same way kids draw mountains. But growing up took me somewhere completely different. I can’t really imagine it anymore, let alone draw it. I can’t even go back to a place I’d call home. Now it feels like such a luxury to have a home. Not because houses are getting more expensive, but because there’s no place that truly accepts every flaw.
Apa jadinya jika kendaraan selama perjalanan panjang adalah kendaraan yang tak nyaman? Apa jadinya jika tempat bersandar selama perjalanan panjang adalah sandaran yang tiba2 hilang suatu waktu? *** Menikah adalah ibadah yang panjang. Perjalanan panjang. Banyak pasangan yang melangkah ke pelaminan dengan satu-satunya bekal bernama "cinta," sebuah kata benda yang sayangnya, dalam ilmu saraf, bekerja lebih mirip seperti obat-obatan terlarang (adiktif dan berbahaya gais) daripada sebuah fondasi bangunan. Bagiku cinta adalah campuran dari berbagai emosi. Kombinasi dari bahagia, cemas, gairah hingga empati. Perasaan yang tak bertahan lama dan berdinamika. Helen Fisher dalam bukunya Why We Love mengungkapkan bahwa fase "mabuk kepayang" atau passionate love dipicu oleh banjir dopamin di otak yang memiliki masa kedaluwarsa. Rata-rata, euforia ini hanya bertahan antara 18 hingga 36 bulan. Jika pernikahan hanya disandarkan pada fluktuasi kimiawi ini, maka ketika hormon tersebu...
Mereka yang hadir adalah takdir.. Tak sengaja melihat kembali profil instagram dosenku di Unpad. Pak Ipit namanya. Semoga saat ini Allah lapangkan kuburnya karena ilmu yang beliau berikan pada kami selama hidupnya. *** Siang itu aku mendapat telpon dari nomer yang tak dikenal. Tak kuangkat. Lalu masuklah sms dari nomer tersebut. Marah-marah. Sms yang masuk kemudian kubaca baik2. Isinya “Jangan ganggu laki-laki yang sudah punya istri dan anak!” Aku terhenyak. Alhamdulillah daftar laki2 yang ku sms tak banyak. Ah ya tahun itu blm ada chat wa, masih menggunakan sms untuk berkomunikasi. Aku pun langsung menyadari dan membalas dengan meminta maaf. Aku sadar wanita di seberang sana sedang emosi dan terluka. Aku menyampaikan bahwa aku memang suka kirim sms tausiyah. Tapi kepada laki-laki, sms tausiyah hanya kukirim ke dua orang saja. Bapakku dan dosen waliku: Pak Ipit. Hal itu yang membuatku cepat menyadari siapa wanita yang mengirimiku sms. Karena tak mungkin itu istri bapakku ka...
Komentar
Posting Komentar