Peluk Ibu
Malam ini gerimis tak hanya di luar, tapi juga di hatiku. Sekian puluh tahun hidupku, pelajaran "memaafkan" adalah pelajaran yang terus menerus harus kulakukan. Ternyata 36 tahun hidup aku masih sangat amatir dalam memaafkan dan mengikhlaskan.
"Ibu minta maaf belum jadi ibu yang baik. Ibu minta maaf kalau dulu kamu jadi merasa dibuang sama ibu," Ucap ibuku sambil menangis.
Selama ini, tak pernah kuungkapkan pada siapapun kecuali pada suamiku perkara kegagalanku di masa lalu. Tentang betapa aku merasa dibuang dan tak berharga hanya karena ketidakmampuanku.
Betapa aku sangat kesepian di masa remajaku karena harus berpisah dengan ibu dan saudara-saudaraku.
Betapa ambisi orang tua dan “ingin memberikan yang terbaik” adalah hal yang harus kulalui meski mengorbankan kepercayaan diriku.
Aku pernah berharap suatu saat mendengar maaf dari orang tuaku. Namun, setelah aku mendengarnya, hati ini tak merasa lega, justru bergemuruh sedih. Hati anak mana yang tidak hancur mendengarnya. Sepanjang malam aku menangis, membayangkan Ibuku sendirian dan tertidur sambil menangis merasa bersalah.
Allah, jarak ini terlalu jauh. Aku harap Engkau memeluk erat ibuku di sana.
Komentar
Posting Komentar